1.Menam / Mula
Pada setiap pengantian musim dari panas ke hujan semua warga tentunya memiliki kebun,entah itu hanya kebun jagung,ataupun kebun padi berbondong bondong membuka lahan baru / buka etan.Kepala adat / tuan tanah Waibalun bersama sama dengan warganya berkumpul membicarakan pembagian tanah yang akan digarap.Setelah semuanya terbagi maka dimulailah dengan penebangan hutan yang ditandai dengan upacara adat pemotongan ayam jantan,yang dimasak dengan "tapo wain"/santan kelapa sebagai sesajian dan ungkapan syukur kepada tuan tanah Ile Mandiri.Bernyanyi bersama sama,beramai ramai layaknya pesta di tengah ladang.
Mulailah orang tua menyiapkan "era" bibit padi/jagung dikeluarkan dari "Keba"/Lumbung dan dibawa keladang untuk ditanam.Semuanya dilakukan secara tradisional.Sambil berpantun"tubak lodo e tawa gere"secara berirama diayunkan bambu/kayu yang pada unjungnya dibuat tanjam untuk bisa menembus tanah."Era"dimasukan kedalam lobang sambil menunduk memasukannya paling maksimal 4 biji untuk jagung dan 10 biji untuk beras.Sebagai catatan pada masa itu petani di Waibalun tidak pernah mengenal beras putih.Yang ada hanya beras merah.Untuk menghormati masa tanam ini Para leluhur Waibalun membuat sebuah dongeng yang sangat heroik."Pada asal mula eten"bibit" tercipta dari hati seorang ibu yang merelahkan hatinya dicabik dan ditanam ditanah dan tumbuh menjadi padi /jagung."Jadi bagi semua orang waibalun memberikan perhormatan yang begitu tinggi kepada bibit karena merupakan perwujudan dari hati seorang ibu yang merelakan nyawanya untuk manusia.
2.Nuan munak lako
Adalah sebuah musim yang mana pada saat padi/jagung sudah mulai berbuah,begitu banyak monyet,babi hutan,babi landak yang menjadi musuh utama karena merusak tanaman.Tentunya kejadian ini berlangsung pada malam hari.Jadi pada musim ini hampir semua pria didesa Waibalun harus rela tinggal dikebun yang gelap gulita dalam suasana hujan hanya dengan bermodalkan api unggun yang menemani tidur malam para petani ini.Adapun setiap petani membuat jeratan " Witu" untuk menjerat semua hewan liar.
3.Nuan hama Ma
Musim panen menjadi sebuah penantian yang indah para orang tua memetik beberapa jagung untuk menandai jagungnya sudah layak dipanen dibakar dan dimakan bersama keluarga.Jagung padi pun mulai dipanen.Tentunya semua petani memiliki "keba"lumbung dikebun.Semua hasil panen disimpan didalamnya dan beberapa saat kemudian desa Waibalun menjadi sunyi senyap karena semua orang berpesta diladangnya masing masing /pesta "hama ma"/Gahak wata tentunya semuanya tidak lepas dengan tradisinya yakni bernyanyi,berpantun.Sebuah lagu yang tak pernah luput dari telinga saya kala itu adalah "sara biti bom bele"syair lagu ini menjadi ikon kegembiraan para petani dan hanya biasa dinyanyikan pada masa "gahak wata" Jagung menjadi makanan utama bagi desa Waibalun pada saat itu.Semuanya tersediakan dari jagung bakan,jagung titi,jagung rebus.Hari yang bahagia untuk dikenang...Kebun / ladang yang sepih menjadi merdu riang gembira.
Mungkinkah semuanya tinggal kenangan.Ketika pemerintah mencanangkan tanam beras orang Waibalun mulai tidak mengakui dirinya pencinta jagung.Bahkan sampai tidak ada lagi orang yang bisa membuat jagung titi."Wata iti alan hala kae...ata lewo pi raan peen hala kae" begitu zaman meggeserkan pandangan orang Waibalun.Mungkin bisa dikatakan orang akan bersembunyi ketika makan nasi jagung..entah karena warnanya yang terlalu menyengat ataupun karena malu atas zaman....Hari berganti hari ..ladang jagungpunhilang,bunyi para penggiling jagung tak terdengar lagi..dan hilang hingga mesin penggilingpun jadi besi tua.
"pe rae Ile Mandiri
pe atek nurun matan hutun
susa tujak soga laran leba hana
belara atek goe golit wato ekot
nuan piin matan getan
kame toda horon onek rae elan belen
Lali tuan kudi lelen bala
pe nuba igo laran kame jaga hode koda...."
Thanks to my Waibalun's spirits....
Doan loke kae nekun eret matak goen atek goen morin mor hukut tani di tobo kaan merenk hamu
Senin, 21 April 2008
Jumat, 18 April 2008
My Profile
Nuha Waibalun adalah nama sebuah pulau kecil di Kabupaten Larantuka NTT,Indonesia,Nuha berarti pulau kecil dan Waibalun diambil dari nama desa dimana jarak antara pulau dan desa ini begitu dekat dan pulau ini menjadi pelindung utama desa ini dari hempasan ombak dan angin pantai.100 % penduduknya beragama Katolik dengan bangunan desa yang tertata rapi.Mungkin bisa kita katakan peninggalan zaman Portugis.Disini didirikan sebuah gereja kuno " St.Ignatius dari Layola bahkan dalam catatan ensclipodia Gereja Katolik tercatat sebagai salah satu basis penyebaran agama Katolik hingga tercatat seorang missionaris dari Potugis yang meniggal disana akibat perang antar penganut agama pada zaman ini.Dia yang dikenal dengan sebagai seorang missionaris yang bersahaja "Joao Travassio".Gerejanya dibakar dan umatnya bahkan nyawanya tertumpah demi desa Waibalun ini.
Missi menjalankan tugasnya dengan sempurna di tanah Waibalun yang mana dibangun Gereja,Susteran,Taman kanak kanak ,SDK Waibalun I & II,SMP,Rumah paroki,BKIA,Lapangan sepak bola Yong Kudi ,Kuburan umum,bahkan 3 sumur disediakan bagi umat Paroki ini.
Desa ini dikenal dengan mitos hidup membiara yang secara turun temurun menghasilkan Uskup,Pastor,Romo,Suster,Frater,Bruder.Semuanya ada di sini.Desa yang kecil di batas kota Larantuka yang sekarang ini.
Waibalun awal mulanya menjadi desa adat dan kerajaan Larantuka namun pada jaman penjajahan Portugis dipindahkan ke tempat yang baru yang kita kenal sekarang sebagai Larantuka kota Renha Rosari.
Waibalun mempunyai peranan yang penting dalam pembagunan di Larantuka yang mana pada zaman dulu missi menggunakan orang Waibalun sebagi Guru ( pendidik/pengajar) ,Tukang batu,tukang kayu yang bekerja hingga dipedalaman kabupaten Larantuka.
Raja Waibalun yang termasyur adalah Raja Kudi Lelen Bala.Yang kita kenal sebagai tuan tanah Waibalun.Keunikan dari desa ini adalah memiliki sukuisme yang begitu tinggi yang menopang kekuatan mental dan spirit semua warganya.Desa ini laksana sebuah negara yang mana memiliki Raja,Lagu kebangsaan( O Waibalun Tanah Airku Tanah Tumpah Darahku),Lagu perjuangan ( Tite ana ana Waibalun Tite pi dein te eret tite pi liko Bapa Kepala Jaga aturan adat Waibalun) mempunyai tarian adat,Rumah adat,Bahasa Waibalun,mempunyai benteng pertahanan dibatas desa (namun sudah hilang)
Mempunyai aturan adat adalah mutlak dalam lingkungan masyarakat dan tentunya juga desa ini,semuanya diatur dalam tatanan adat yang sangat rapi dan selalu berjalan dari masa kemasa.
Saya pun mencoba mengenang Waibalun dalam syair "
"Kame ata Le Balun Pehen koda adat sare menjaga Tuan Tanah
Lau Nuha liko lapak
Rae Ile ola etan
Pe tukan tanah Kame
Kame ata Le Balun"
Ada beberapa orang tua yang masih sempat bercerita kepada anak anaknya tentang suka duka desa ini.Pada zaman dulu desa mengalami masa yang sulit yakni terjadi kelaparan dan wabah penyakit yang hampir membunuh semua warganya "penyake bele" begitulah istilahnya orang tua zaman dulu.Bahkan beberapa waktu yang lalu saya sempat mendapat cerita dari orang disana bahwa ketika orang menggali tanah banyak ditemukan tengkorak,tulang belulang manusia tanpa identitas dan diperkirakan ratusan tahun yang lalu.Namun sayangnya belum ada yang mengidentifikasi masalah ini.
Waibalun mempunyai Pantai yang indah dan memiliki nama yang yang sangat unik.Wato Gogok " Batu yang bisa berkokok layaknya ayam".Air kenari" pantai yang ada pohon Kenari,Air Hukak,Air Hajon,Air Bao.
Waibalun mampu memberikan apa yang lebih besar lagi dari pada ceritaku disenja ini.Tentunya saya akan bercerita lagi tentang desaku ini. Bernard di Tanah Bali
Missi menjalankan tugasnya dengan sempurna di tanah Waibalun yang mana dibangun Gereja,Susteran,Taman kanak kanak ,SDK Waibalun I & II,SMP,Rumah paroki,BKIA,Lapangan sepak bola Yong Kudi ,Kuburan umum,bahkan 3 sumur disediakan bagi umat Paroki ini.
Desa ini dikenal dengan mitos hidup membiara yang secara turun temurun menghasilkan Uskup,Pastor,Romo,Suster,Frater,Bruder.Semuanya ada di sini.Desa yang kecil di batas kota Larantuka yang sekarang ini.
Waibalun awal mulanya menjadi desa adat dan kerajaan Larantuka namun pada jaman penjajahan Portugis dipindahkan ke tempat yang baru yang kita kenal sekarang sebagai Larantuka kota Renha Rosari.
Waibalun mempunyai peranan yang penting dalam pembagunan di Larantuka yang mana pada zaman dulu missi menggunakan orang Waibalun sebagi Guru ( pendidik/pengajar) ,Tukang batu,tukang kayu yang bekerja hingga dipedalaman kabupaten Larantuka.
Raja Waibalun yang termasyur adalah Raja Kudi Lelen Bala.Yang kita kenal sebagai tuan tanah Waibalun.Keunikan dari desa ini adalah memiliki sukuisme yang begitu tinggi yang menopang kekuatan mental dan spirit semua warganya.Desa ini laksana sebuah negara yang mana memiliki Raja,Lagu kebangsaan( O Waibalun Tanah Airku Tanah Tumpah Darahku),Lagu perjuangan ( Tite ana ana Waibalun Tite pi dein te eret tite pi liko Bapa Kepala Jaga aturan adat Waibalun) mempunyai tarian adat,Rumah adat,Bahasa Waibalun,mempunyai benteng pertahanan dibatas desa (namun sudah hilang)
Mempunyai aturan adat adalah mutlak dalam lingkungan masyarakat dan tentunya juga desa ini,semuanya diatur dalam tatanan adat yang sangat rapi dan selalu berjalan dari masa kemasa.
Saya pun mencoba mengenang Waibalun dalam syair "
"Kame ata Le Balun Pehen koda adat sare menjaga Tuan Tanah
Lau Nuha liko lapak
Rae Ile ola etan
Pe tukan tanah Kame
Kame ata Le Balun"
Ada beberapa orang tua yang masih sempat bercerita kepada anak anaknya tentang suka duka desa ini.Pada zaman dulu desa mengalami masa yang sulit yakni terjadi kelaparan dan wabah penyakit yang hampir membunuh semua warganya "penyake bele" begitulah istilahnya orang tua zaman dulu.Bahkan beberapa waktu yang lalu saya sempat mendapat cerita dari orang disana bahwa ketika orang menggali tanah banyak ditemukan tengkorak,tulang belulang manusia tanpa identitas dan diperkirakan ratusan tahun yang lalu.Namun sayangnya belum ada yang mengidentifikasi masalah ini.
Waibalun mempunyai Pantai yang indah dan memiliki nama yang yang sangat unik.Wato Gogok " Batu yang bisa berkokok layaknya ayam".Air kenari" pantai yang ada pohon Kenari,Air Hukak,Air Hajon,Air Bao.
Waibalun mampu memberikan apa yang lebih besar lagi dari pada ceritaku disenja ini.Tentunya saya akan bercerita lagi tentang desaku ini. Bernard di Tanah Bali
Langganan:
Postingan (Atom)
Goe ne wekik goen
Nolon kene mor pa goen marin 'ekan manja wekim moen bain,moe ata kaya rayan hala' Koda piin goe kete sain pali wali . Ata iker tur...
-
Pali wali goe onok berea loke halaku maka nolon sain pali wali kia goe bene koi ketun nane ata marin sembayan Hendak Berlindung .Ade Oa Lau...
-
Silsilah Raja-Raja Larantuka 1. Putri Ile Jadi,Putri Watowele (Yang Kawin dengan Raja Pati Golo Arkyan) 2. Raja Padu Ile 3. R...
-
Saya benci Orang Waibalun.....begitu lah kesan saya pada taon 2004 saya pulang kampung ...suasana perjalanan yg begitu melelahkan namun ter...