Sabtu, 24 Januari 2009


Mengenang Hidup dari Waibalun 1

23 Maret 1974 terlahir saya di desa Waibalun..sebuah rumah sederhana tempat peninggalan Oyang Luga Bethan & Muku Kromen,di Lorong Nuha Waibalun RT 6 ku memulai kisah hidup yang takan mungkin terlupakan.Dalam dekapan Ibu ku yang tercinta / Mama Mia diberikannyalah seglah bentuk cinta kasih.Dari pagi jam 4.00 ibuku yang begitu rajin sudah memperisapkan masakan didapurnya yang reyot,kumuh dan lembab.Masakan yang istimewa untuk hidangan kami berlima nasi jagung dicampur beras.30 menit lamanya ibu berurusan dengan dapur sambil memetik daun merungge didepan rumah dan dengan bumbu penyedap vit sin / Ajino moto tersaji diatas meja makan tua dari kayu ulin peninggalan leluhur dirumah tua ini.Setelah merampungakan segalanya ibuku berpamitan dengan ayahku /Pa Inggu lalu ke pantai.dengan sebuah ember bak hitam dikepalanya ia berjalan,menhentakan jiwa raganya mencari ikan hasil tankapan para nelayan.Terkadang ibu kembali tampa membawa hasil.Sering juga Ibuku memetik sayur singkong,daun merungge,kelapa,daun pepaya,buah pepaya untuk dijual di Larantuka.Tanpa beralaskan sandal hampir setiap pagi semuanya ini menjadi rutinitas ibu ku.Dari hawa dingin hingga terik panas jam 12 siang baru ibu ku kembali kerumah."Hanya untung 500 rupiah nak....100 pake beli gula pasir,300 rupiah tabung ,seratusnya untuk ayah ku membeli tembakau sek.Nasi sisa pagi hari dibungkus rapi bersama sayur merungge dihantarkannya ke kebun .Disana ayahku sudah menanti.Ayah ku setiap jam enam pagi pada musim hujan sudah ada dikebunnya membersihkan rumput dilahannya di Wata Mae /Wato Kedosor.KAlo di musim panas tentunya dia beralih profesi sebagai tukang pembuat kapur putih,Namun sayang tidak berthan lama karena ganguan matanya yang memaksanya untuk berhenti total dari melaut.Tak ada yang pecial dari ayah ku.Orang nya pendiam,tidak suka bergaul dengan tetangga,atau bercengkrama di rumah tetangga.Akhirnya ayah ku memutuskan untuk membuat batu bata di Welo.Sungguh suatu berkah buat keluarga kami,Tanah Nenek oyang Landa Bethan di Welo dijadikan lahan untuk membuat batu bata.Nene Mia Pransa Hallan sungguh berhati mulia perjanjian semula bagi hasil namun kenyataan nya tidak seperti itu. Semua hasil diserahkan pada ayah ku.

Tuhan senantiasa beserta keluarga kami.PAda tahun 1979 setelah bencana banjir di larantuka 27 Februari .Ibuku mendapatkan kesempatan berobat /operasi prngakatan tumor di Rumah Sakit Lela.Adalah Pa Besa / Fr.Valens ;Ontu Lin;Ona Gala yang bahu membahu membatu keuangan dalam proses operasi ini.Dan semuanya berjalan dengan lancar.Saya bercucuran air mata ketika pagi itu bemo menjemput ibu ku di depan TKK .Mama Suster Ursula yang menjadi kepala sekolah TKK datang menggendong saya.Beliau sangat baik sekali dengan keluarga kami,Karena cinta kasih Nene Mama Peni Bethan yang begitu besar terhadapa susteran CIJ Waibalun.

PAda masa masa sulit itu tak ada yang mampu kami lakukan hanya bisa berharap dari bantuan keluarga besar Tukan /Nene Pa Todo Tukan.Sebuah keluarga besar yang penuh dengan suka cita iman yang luar biasa.Nene Pa Todo seorang confreria yang taat,nene Mama Peni Bethan dengan barisan Santa Anna tak henti hentinya berdoa keluarga setiap malam.Mereka berdua menjadi inspirasi hidup saya.

SDK Waibalun I menjadi tempat yang paling saya suka dan paling saya benci.Betapa senangnya saya ketika dapat masuk SDK Waibalun I.Ketika saya masuk kelas satu kakak saya tamat SD jadi semua pakain seragamnya tentunya menjadi milik saya.Dengan bangga saya berangkat kesokolah menyeberangi kuburan Waibalun.Yang tak pernah lupa setiap apagi saya selalu menyapa semua oyang oyang di Kuburan keluarga Oyang Luga & Oyang Uku.karena jalan setapak menuju kesekolah tepat disamping kuburan mereka.Mungkin mereka begitu bangga dengan saya karena semua letih,keluh kesah hidup dikeluarga kami ,saya katakan pada mereka bedua di pusaranya.

SD kelas dua menjadi petaka dalam mental saya.Semulanya saya yang seorang pemberani,hampir semua perkelahian dari TKK Nely sampai kelas I SD saya yang menjadi pemenangnya.Namun tidak demikian halnya setelah kejadian yang saya sebut dengan my end of character.Ketika ada bacaan SD kelas dua dengan judul " bermain" Ibu guru kelas yang juga kebetulan bibiku " Mama Ibu Isa" menyuru ku membaca......dengan lantang saya mebaca sebuah alinea "Hore hore teriak anak anak....." seisi kelas ku besrta mama Ibu Isa tertawa terpingkal pingkal ...saya pun bertanya dalam hati saya ada salah apa dengan saya hingga ditertawakan /dilecehkan seisih kelas.Ternyata saya tidak bisa menyebut huruf "R" sungguh menjadi hari kiamat bagi saya,mental ku jeblok seketika itu...sekolah pun menjadi momok bagi saya,ingin nya tidak mau sekolah lagi tapi pusaran Oyang Luga & oyang Uku senantiasa menjadi teman saya pada saat itu,semuanya kubebankan kepada mereka.Dan saya pun lanjut sekolah.

Kemiskinan adalah bagian dari hidup kami,bahkan selama SD saya hanya bisa mempunyai satu (1 ) celana baru.Selebihnya ibuku yang menjahit tangan sendiri entah dari mana kain yang didapatnya.Satu ketika saya melihat ibu ku kepantai,dan rupanya dia menemukan sehelai kain yang dibawah arus laut.diambilnya lalu dijahit menjadi celana,warna abu abu celananya hingga saat ini saya pun mengenangnya...tak ada perasaan malu,ataupun minder dalam pergaulan kami namun banyak orang yang mencemooh kami,menghina kami .Semuanya menjadi bagian yang sangat indah dalam hidup kami.Tuhan memberikan beban tentu sesuai dengan kemampuan umatnya begitulah kata ayah ku.

Ketika SD kelas IV saya harus menerima komuni pertama,ada alm Om Domi Tolan yang menjadi bagian yang sanagt penting dalam hidup ku. dia menghias rumah,membantu semua nya dirumah.Sungguh suatu yang luar biasa ketika pulang gereja melihat semuanya tertata rapih.Pada awalnya saya sudah pesimis bahwa tidak mungkin akan ada pesta dirumah.Ya cukum minum tea ,kopi saja,ternyata diluar dugaan ku.

SD kelas VI menjadi sebuah kebingungan dalam hati.....kakak ku yang pertama No Sil dia harus mengajar di Waiwadang / adonara sebagai guru bantu disana.Dan kakak kedua ku NoTan harus berangkat ke BAli atas inisiatif Uri Lala yang mau membiayai kuliah No Tan.Saya sendirian dirumah.Pada saat mengantar No Tan naik bis ke Maumere,selama 2 hari penuh saya menangis agar kakak ku jangan meniggalkan saya sendirian di Waibalun.Mama Mia & Pa Inggu tak henti hentinya berusaha untuk mendiamkan aku namun tangisan ku sungguh seperti dunia kiamat.Pada hakekatnya pada saat itu kami berdua selalu hidup bersama dalam suka dan duka,harta yang termahal yang ku miliki adalah No Tan dan sebalik nya.Kami selalu saling mengasihi,salang menjaga,saling membantu.HAri demi hari akhirnya saya mampu melupakan kepergian kakak ku.

Ketika duduk di bangku SMP kelas II SMPK Ratu Damai Waibalun ada perubahan dalam keluarga kami dengan berambahnya keluarga yankni Nene Pa Todo dan Nene Mama Peni bergabung di rumah kita. Mulai saat itu segala nya berubah dalam diri saya,Nene Pa & Nene Mama adalah sosok pendoa sejati mereka berdua mengajarkan saya tentang doa rosaria yang akhirnya menghantarkan saya masuk Seminari Menengah San Dominggo Hokeng.

PAda pagi hari di dapur ku yang senyap saya menemani ibu ku sambir bertanya " Mama mungkinkah saya sekolah di Seminari Hokeng"tak ada jawaban hanya terdiam sejenak lalu dia berkata" No....mama mau saja kamu sekolah dimana.....kalo kamu mau pergi ke seminari...mama senang ..tidak apa apa ..nanti kalo tidak jadi pastor juga tidak apa apa mama tetap terima No"
Yang menjadi masalahnya ketika menjelaskan pada ayahku,mungkin beliau sangat mengarapkan saya selalu dekat dengan dia jadi dia kurang memotifasi saya untuk sekaolah di Seminari.

Tiga Taon di Seminari San Dominggo Hokeng menjadi awal yang baru buat saya.Namaku di Waibalun dengan sebutan Nar diganti dengan Best Tukan.Waibalun di SeSADO adalah sebuah kekuatan besar pada saat itu dan sungguh disegani oleh teman teman yang lainnya.Pada tahun pertama saya berjalan selayaknya siswa seminari namun pada tahun kedua terasa ada perubahan dalam diri saya.Hampir setiap hari sabtu saya bolos pulang ke Waibalun.Senin pagi saya kembali lagi.Hampir semua majalah dinding mingguan di SESADO menjadi pelampiasan imajinasi ku.Saya menjadi seorang penulis syair puisi yang terkenal di seminari.Hingga pada tahun ketika saya memperoleh peghargaan dari Dinas Pendidikan Republik Indonesia karena menjuarai Lomba Cerper tingak Nasional.Merupak sebuah prestasi yang besar,dan membuat saya lupa diri.Saya menjadi bahan pembicaraan dalam lingkungan seminari apalagi saya dari kelas Sosial jika dibandingkan dengan anak anak Bahasa & Sastra. Pada saat itu saya bagai diatas awang awang...terasa seminari menjadi milik ku.hingga saya harus bolos pada saat paskah .

Saya di Panggil oleh Fr.Thomas Labina /sebagai pembiming rohani kalo saya harus dikeluarkan bersamaan dengan 27 siswa yang lainnya .Hatiku hancur r emuk dan pasrah...tak tahu lagi apa yang harus diperbuat.Akhinya saya memutuskan untuk pulang kampung sambil ngajak ayah ku ke seminari, siapa tahu para pastor bisa membantu saya untuk melanjutkan panggilan ku.Namun sia sia akhirnya saya harus dikeluarkan dari seminari .Selama 4 bulan saya dan saudara misan Jhoni Kleden yang bersamaan harus tinggal diluar seminari dan sekolah tetap diseminari.Tentunya menjadi kehidupan yang baru lagi...pengalaman yang berbeda lagi...sayang seribu sayang setelah kerasan menetap di rumah keluarga di Hokeng Jhonny melakukan perbuatan yang kurang terpuji dengan memacari anak tuan rumah...Oh Tuhan ku,,,,,,,,,,.....malu nya kita...ketika di bilang No...kalian tinggal disini makan disini lalu kalian berak dimuka kami...saya juga kena getanya karena sempat juga berpacaran denagn anak tetangga namanya Agustina ...dia akhirnya ke Jogjakarta ikut keluarga nya.

Ketika keluar dari seminari saya memutuskan langsung ke Bali,Kedua orang tua ku tidak mengijinkan namun akhirnya merelahkan saya pergi.....hingga saat sekarang dari tahun 1993


Nanti nyambung lagi ya.........

Rabu, 31 Desember 2008

NATAL KU

Empat belas tahun berlalu..jauh dari dekapan Pa /Mama..hati ku sunyi sepi ditanah ranto
sempat Malam Natal dalam doa ku ..ku ungkapkan segala gundah hati,risau lara ku ...tentang keluarga kecilku....tentang si mungil Billie yang baru genap empat bulan...semuanya berubah seiring waktu berputar....kenangan mungkin saja kembali tapi......jauh disini aku menjalani hidup ku...jauh dari Tanah Waibalun......nuren piin matan getan onek belara jaha tobo hukut peten ema no bapa rae lewo tana...rae pesta natal mehak hena..kame ana we keken kaen morit doan ile liko.
Goe nenan teti kelen lolon...polo jaga kame sain umur kame belaha siu....



Kamis, 06 November 2008

Berebut tanah leluhur

Entah harus dimulai dari mana tentang nasib 10 generasi Waibalun kedepan.Begitu banyak manusia baru terlahir diWaibalun dengan mutu / kwalitas yang begitu rendah.Hanya dengan tamat SMA lalu merasa diri sudah selasai menimbah ilmu.Begitu banyak anak mudah nikah dengan kwalitas pendidikan keluarga yang sangat minim.Bayangkan saja ketika tahun 2002 saya berlibur di Waibalun.Ada adik kelas saya yang mau menikah bertanya kepada saya " Tata kalo anak melahirkan lewat mana" saya pun bertanya balik kepadanya " Menurut mu lewat mana" persis seperti dalam pikiran saya dia pun menjawab " Lewat pusar".Sungguh kualitas manusia yang ada disana sungguh dibawah standard untuk seorang menyatakan siap untuk ke jenjang perkawinan.Kecelakaan dalam pernikahan menjadi hal yang wajar.Tanpa pengetahuan tentang sebuah rumah tangga mereka merencanakan pernikahan.DAn yang terjadi tentunya bisa dibayangkan bahwa mutu orang tua yang rendah akan menghasilkan generasi yang tidak akan mampu bersaing di dunia luar.Waibalun menyimpan bom waktu yang sangat dasyat.Semua orang berebut hak atas desa dan tanahnya.Atau mungkin juga ada hal yang lucuh tiba tiab ada teman saya yang menelpon " Hai no...suku hadjon bilang pulau Waibalun milik mereka" " hai no..tanah di Gerat milik suku Weking ""no..tanah di SDK Waibalun I sudah milik orang lain"lalu saya bertanya pada sahabat saya " hati hati no...sebentar lagi tanah kuburan juga melayang "

Kita yang hidup di tanah rantau tentunya tidak terlalu perduli dengan hal tersebut diatas lantaran kita memang tidak menginginkan satu apapun .Yang menjadi pertanyaan adalah orang begitu dengan mudahnya mengakui sesuatu barang menjadi milik perseorangan ataupun suku.Entah bagaimana asal asul desa Waibalun dan suku tertua di Waibalun ataupun Tuan Tanah Kudi Lelenbala menyerahkan semuanya ini kepada siapa sehingga semua orang berebut atas nama tanah Waibalun.

Perebutan harta warisan memang hal biasa di dunia ini.Tapi yang dipertanyakan tentang kita di Waibalun adalah dimana keberadaan Tuan Tana Waibalun yang menempati posisi nya sebagai tuan tanah sehingga mampu mengatur Waibalun secara desa adat bukan secara suku per suku.Mungkin orang luar berpikir bahwa Waibalun menpunyai satu kesatuan suku yang kuat yang mana saling menunjang satu dengan yang lain.Bagi saya munkin itu terjadi pada dua puluh tahun yang lalu dimana semua suku begitu padu baha membahu dengan nyanyian kebangsaan Waiabalun " Prae dein Ile mamdiri Palau Nuha Waibalun Pe tukan rama dein lewo belen Waibalun oh..Waiablun o Waibalun goe hukut moe goe gelupa moe hala..Tite ana ana Waibalun tite pi dein te eret tite pi liko bapa kepala jaga aturan adat Waibalun...." mungkin lagu ini hanya lagu tidur di zaman sekarang ini .Orang berlombah lombah untuk kepentingan dirinya,sukunya hingga mengorbankan rasa hormat,tunduk kepada para pendiri,pemilik desa Waibalun.Desa ini tentunya tidak berdiri dengan cara relokasi melainkan desa adat yang menjadi cikal bakal kehidupan di LArantuka.

Saya pun bertanya...." siapakah yang memberi nama desa Waibalun ,nama Pulau Waibalun" kenapa pada saat pemberian nama ini tidak langsung saja memberikan kepada suku tetentu dan dengan nama suku tertentu. Sehingga misalkan pulau Waibalun dikenal atau disebut dengan Pulau Suku Tukan atau Desa Suku Tukan"

Saya berpikir semakin pintar orang yang menetap diWaibalun pada saat ini semakin sempit daya pikir nya tentang wujud desa Waibalun.Waibalun dengan pulau Waibalun adalah kekuatan abadi dari para leluhur pertama di Waibalun.

Saya hanya berdoa dari kejauhan agar para leluhur Waibalun yang mendirikan desa Waibalun,menamai Pulau Waibalun tidak murka atas apa yang terjadi di Waibalun

Saran saya hanya satu jangan pernah mengubah Waibalun...karena kita yang hidup sekarang ini tidak tahu apa yang pernah terjadi pada saat berdirinya desa ini...pengakuan boleh boleh saja..tapi harus diingat....Waibalun adalah desa keramat tidak seprti desa yang lain dimuka bumi ini....kami mengenang Waibalun dengan kelembutan hati dan kasih budi ....Kame ata Le Balun...bukan kame ata ( suku goen)...

Thks

Selasa, 28 Oktober 2008

Penoko wati,lera beten tawa gere,manuk gokok,tahik lau soo kae,ata ema goen pana majan laran,peneko wati peen nae naik lau to o bapa Beda Toti tena,ika wara,serea,dome,hode tao te basi onen,hungon waat ata pelele ika,untu nekun ratu lema,tapi taan be a,weke kaen seba morit.Laran peen pelate jaha,lein amu,hungun ika sain teti posto,ema goen peen pana wegit jaha,ikan kulu pulo untu ribu lema,taan hope tahan kilo tou,gula pasir,ne tebako nein laken nae.Ema goen nimun ata saren...nuan pain ata kawe gate ema goen duun wawe ,peten nae jaha,penoko wati kalo ait ika hala nae ne laken nae rae ongon rai gepu ue lolon,moton lolon,besi lolon,paja huan,paja puhun nete duun heti jawa.Ema goen nimun jaga bala laran nai lau watan nai seba kaen kerimot polo tisi deko nein kame logek...ata iker raan be marin kame..mio piin we e e..logek ata ekang maan a di....ema goen mian tenake aten naen lere lere...Geka gerisek jaha kalo nae onen berea...nae nai lali oko nai duun selan tapun,boti tou ratu pito pulu lema..seba morit piin susa jaha..pelaran susa peen we kame pana maan be sena,taan be a pa kame matan tenake jadi sekola wahak hala,naan apu,ola ongon,naan wato mean polo bisa nein kame mekan.

He mio e..goe peten rae jaha pe leron matan getan uran angin nokon doen plae lali welo tobo jaga seru wato mean,Kajo reo belen bapan hama pa goen leba taan seru wato.Wato kulun ribu welin naen ribu pulu telo peek ke di bagi ne tuan tana ..ema ne pa goen nekun ait ribu pulu rua hena.Naan pate doi sekola kame ana ata telok.Tata te wutun no belen nae tamat sekola jadi guru nekun jadi guru honor hena ait doi ribu lema naan pate wekin naen hena,peten nae jaha nai mengajar teti Waibawadan balik hae nete ne penyake malaria tropika...no e moe peen maan pa ne mama susa jaha nekun rae peten moe jaha ka...Tata goen tenga nae te mae ,wekin naen taa jaha ..nae ana te mae jaha..kerian di kerian jaha..kame ruak morit hama hama lau lango belen ,mekan menun hama hama...kame ruak sayang wekik jaha.Kame ruak onek sena jaha telango kame ne pao pukon rua bele jaha,huan aja jaha ,muda pukon rua bele jaha huan tenepa...

Goen nimun onek senaren tede pa goen leba wato utan tao lau laran rekan .kubik tou nae duun ribu pulok lema.Kerian a weke kaen nae kerian hamu ...polo bisa nein kame mekan...Pa goen peen bemeren jaha...petutu di kuran jaha...nekun aten nae bura jaha..nae naan ata onek belara hala,ata susa pukon nae hala,nae tobo nekun kewenger hena...aden nae weke kae peten nae jaha .
Pa e e..moe peen di mae jaha moe ajar kame mae jaha,tutu akan aja bain tapi lima harus pana kerian terus..ola netak pe en we..goe hukut moe jaha,lali Heras peen we moe buka ongon pertama ne kerama kedila aja jaha..taan be a..rae marin tana peen moen hala..jadi moe ait a tou di hala..moe peen we mae jaha lere lere aten moe...

Waktu nene pa ne nene mama morin mo,rae sayang moe jaha,nene pa takut ne moe jaha tapi moe dore rae jaha...goe peten moe jaha..atek goen dewa jaha hukut moe...taan be a pa e...ata iker marin tite piin ata kerimot alant neken moe mae jaha ...Om domi marin moe kalo mata maso surga onen puna puna...goe juga marin ne we....

Susa keniki wata take
alet lali malu mara
niku weli rae ata rayan
taan be tite soron onot

peten goe peten
taan pana pe laran piin
tula tenula taan pate laran nimun
koda senaren leran naran

mio e pe teti pelali
kame piin ana ata raan be kibo libo
morit susa atet sena
taan tede koli laran
tite kaka noon arin
ama tou alet tou

Thk to my Parents
He told to me " no e..kalo dapo moen hemo hala ekan logek labu welin bain
susa sena maan maen hamu..ekan nonin a aja bae polo ekan bengang bain "

Antara DOSA & SURGA

Film “Good Father” yang diperankan oleh Alpacino sangat menyentu dihati saya.Kejadiannya,ceritanya serupa dengan desa kelahiran ku.Namanya Desa Waibalun.Terletak di Kabupaten Flores Timur NTT. Sebuah desa kecil religius terkenal dengan beberapa tokoh hebat seperti “Joao Travassio” dalam catatan ensiklopedi gereja katolik sebagai pemimpin gereja di Paroki St Ignatius Waibalun dibunuh bersama umat dan gerejanya.Alm.Mgr.Paulus Sani Kleden SVD uskup kedua Denpasar,Anton Sigoama Letor ( A.S.Letor penulis lagu berirama dolo dolo di buku Mada Bahkti,hingga pastor Nobert Bethan SVD ( pembimbing rohani tepidana mati Tibo CS di Palu,puluhan imam,suster,bruder,frater terlahir didesa kecil ini hingga seorang preman di Jakarta yuang dikenal dengan panggilan Timong.

Siapapun yang dari kepulauan Flores Timur yang pada zaman dulu tentunya mengenal baik desa Waibalun ini.Karena merupakan pusat belajar TKK, SD,SMP,SMA,SPG,Susteran CIJ,Frateran BHK hingga saat ini.Begitu banyak siswa dari Pulau Solor,Adonara,Lembata dan daratan Flores Timur semuanya menimbah ilmu di Waibalun.Desa yang unik dengan tera desa yang bagus seperti SDK Waibalun I dikhususkan hanya untuk pria,SDK Waibalun II wanita,SMP,SPG juga sama halnya.Bangunan biara,gereja,sekolah,paroki,BKIA,Lapangan bola,kuburan dalam satu areal.Sungguh sebuah karya unik pada masa itu.

Pada zaman dulu 80 % anak laki laki belajar di Seminari,tenaga pengajar yang mampu menyuplai guru ke semua sekolah di kabupaten Flotim.Saya sebagai salah satu putra Waibalun dan warga Waibalun yang lainnya mempunyai kekuatan khusus yang di kenal dengan “Ike kwaat” kekuatan para leluhur atau pendiri / pemilik / tetua desa sebagai Tuan Tanah Larantuka senantiasa menemani semua orang Waibalun entah dimanapun kita berada.Sebuah kebahagian yang luar biasa ketika saya belajar di seminari dengan menyebut nama Waibalun hidup ini tenang damai dan sempurna.Semua orang mengenal Waibalun dengan kekuatan rohani dan latar belakang desa yang sejarah gereja yang begitu kuat.

Mungkin salah satu organisasi tertua di Indonesia perkumpulan Konfreria,Santa Ana,Santa Agnes.Yong Kudi yang dibentuk pada zaman portugis dan masih aktif hingga sekarang.Namun sayang laksana dalam cerita “Good Father” perlahan lahan semuanya berubah.Gereja menjadi tempat berlindung pada tahun 1979 kala banjir longsor menghancurkan Larantuka kota namun tidak demikian halnya dengan Waibalun yang terlindung dari kekuatan para penjaga desa.dan banjir hanya mencapai tapal batas desa saja.Hanya desa Waibalun yang kokoh berdiri di Larantuka pada saat itu.

Sekarang semuanya berubah misa harian hanya dihadiri kurang lebih dari 10 orang tua dan misa mingguan yang kurang dipadati umatnya.Banyak sekali cerita yang menyesatkan umatnya dengan percaya pada kekuatan gaib/majic.Seperti halnya tokoh dalam peran Good Father yang selalu mengandalkan Tuhan,Bunda Maria dalam setiap actionnya begitu juga di desa ini.seorang maling ayam pun sembayang rosario sebelum melakukan aksinya.Anak muda yang suka mabuk,pesta pora,tatanan kehidupan semua berubah,jarang terdengar berita tahbisan imam baru.Yang ada hanya 25 tahun atau 50 tahun hidup membiara.Generasi muda katolik didesa ini memilih jalan yang salah.Perkawinan dini karena pergaulan sex yang begitu bebas lepas membuat pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol dan semuanya berubah.

Dalam hati kecil ku sedih ketika pulang kampong,desa ku yang indah dengan kekhasan gereja katolik telah berubah.Namun ada yang indah telah di pasang patung besar Kristus Raja di pulau Waibalun yang berhadapan langsung dengan desa ku…..






Thanks & Jesus Love US
Bernard Tukan

Goe ne wekik goen

  Nolon kene mor pa goen marin 'ekan manja wekim moen bain,moe ata kaya rayan hala' Koda piin goe kete sain pali wali . Ata iker tur...