Siapa yang tak mengenang hari kramat bagi orang Larantuka 27 Februari 1979.Bencana banjir longsor dari Ile Mandiri menerjang Larantuka hingga luluh lantah.Hampir tak banyak yang tersisa tentang Larantuka.Mungkin Renha Rosari masih sayang Nagi.Di tahun itu saya masih berumur lima tahun,hanya dalam bayangan ketika hujan menerpa Waibalun dan tak henti hentinya.Gemuruh bebatuan,kayu gelondongan,pasir,tanah terdengar dari batas desa Waibalun.Pada malam yang gelap itu terdengar teriakan "mae...mae...mae....maeeeee"/banjir ..banjir..banjir"tak ada tempat yang aman bagi penghuni desa.Semuanya bergegas menuju ke Gereja St.Ignatius Waibalun,tangisan,ratapan anak anak menggelegar di gereja tua itu..hujan pun tak menunjukan tanda untuk berhenti.Di malam itu,ditemani kegelapan,ketakutan,semuanya bersama sama tertunduk dikaki bunda Maria..berdoa sepanjang malam..dan karya Illahi hadir di Waibalun...desa para lelulur Larantuka selamat dari banjir bandang"....rae lewo hutun wato eko tawa taa..." disanalah kita bertanya - tanya ..."mengapa banjir bandang tidak menerjang didesa Waibalun.Mungkinkan nene oyang Kudi Lelenbala dan Nene oyang Wato Wele pele liko Waibalun.Semua orang Waibalun mempercayainya sebagai sesuatu kekuatan yang dasyat tentang tanah lelehur Waibalun.Hampir semua desa dibawa kaki gunung Ile Mandiri terkena musibah ini.Dan Waibalun menjadi salah satu desa yang luput dari bencana ini.Bebatuan besar hanya tertahan dibatas desa tanpa ada penghalang yang berarti pertanda Waibalun memiliki sebuah atau penjaga desa yang kita kenal dengan ike waat.
Larantuka hancur berantakan bahkan hingga sekarang masih terkenang dengan tumpukan pasir ataupun bebatuan di sepanjang kota Larantuka.
Malam itu sungguh menjadi malam refleksi yang mendalam bagi umat Waibalun...tatkalah rundung duka menyelimuti Larantuka tersisa nafas desa leluhur yang terselamatkan dari bencana.
Kudi Ile ale jaga
lewo goen belen
ata goen belen
pe tobo jaga likat nura
Lali lango belen pe nuba igo taan be jaga
koli baran pain tuak tine etan
Lewo goen belen ata ana jaga sare
no goen belen Kudi Lelenbala
noon ema goen Wato Wele
Lali nama..goe dein tika lewak
rae lango adat goe soron atek balik
lewo goen belen nimun ata tuan belen raen
Tana goen nimun
mei goen nimun
hode ilu goen dore heran era
Lewo goin piin mae jaha
lewo belen kame ata Lebalun....
Doan loke kae nekun eret matak goen atek goen morin mor hukut tani di tobo kaan merenk hamu
Sabtu, 10 Mei 2008
Jumat, 09 Mei 2008
Koda Kenirin
leron pana gawe kenate
tena hobe lau angant pukon
ekan miten leron pana bali hala
sare goen piin peten atek
leren rodi bauk ape nutok golo kenema
lali orin wai pelatin goe tobo tolo lotor
plate plutuk kaan pana tine ma
etan ribet ..go olak kaan sare
tawa gere no tawa gere era
Lali tapo pukon heti bao liman
lera palin wali pelate loke jaha
onek kuran tawa take
soron gere uran warat kaan be jaga
prae wato kedosor tana mae
pe lodo we koli tawa tuak pukon tou
ema no bapa pana penoko wati balik hala mor
leren mete gere sain lali ile helut
peten jaga ...lau majan bera dai
ema no bapa pe laran piin goe jaga
sola wato uran terie
kame lali laran jaga
hode rae ata belen
noon bala noon lipa
iwit kenawe taan ne maen hamu....
Waibalun be my the end of the world...everlasting heart......
tena hobe lau angant pukon
ekan miten leron pana bali hala
sare goen piin peten atek
leren rodi bauk ape nutok golo kenema
lali orin wai pelatin goe tobo tolo lotor
plate plutuk kaan pana tine ma
etan ribet ..go olak kaan sare
tawa gere no tawa gere era
Lali tapo pukon heti bao liman
lera palin wali pelate loke jaha
onek kuran tawa take
soron gere uran warat kaan be jaga
prae wato kedosor tana mae
pe lodo we koli tawa tuak pukon tou
ema no bapa pana penoko wati balik hala mor
leren mete gere sain lali ile helut
peten jaga ...lau majan bera dai
ema no bapa pe laran piin goe jaga
sola wato uran terie
kame lali laran jaga
hode rae ata belen
noon bala noon lipa
iwit kenawe taan ne maen hamu....
Waibalun be my the end of the world...everlasting heart......
Sabtu, 03 Mei 2008
Hati & Cinta
Adat Kawe Gate ata Waibalun
Rembulan malam menaungi lewo tana Waibalun,muda mudi mura rame di keheningan malam,Elan belen / halaman Kapela St.Antonius Padua menjadi saksi abadi indah nya nuansa romantika kemamu kebarek lewo Waibalun.Gendang dihentakan berirama dolo dolo dengan seorang dirigen/pemimpin tari,gerak,dan pantun berdiri ditengah,satu dua tiga gerakan badan mulai bersenyawa dengan gendang.
Dolo pai mura le
lipan sina gelu bala hala
tekun dai selaga herin bala
lidun dai seligu talin geto
jangan sampe jangan sampe
terlalu jangan sampe
pada lagu modern tentunya banyak kita temui refreein yang diletakan ditengah lagu namun untuk dolo dolo refreein tentunya selalu pada awal lagu.
para pembawa bait pantun tentunya telah menyiapkan pantun terlebidahulu karena dalam dolo dolo yang dibutuhkan sahut menyahut /berbalas pantun.
Pada setiap acara ini berlangsung tentunya menghasilkan begitu banyak cerita dan berawal dari pantun dan masuk kedalam hati.Dolo dolo bukan hanya untuk mencari pendamping hidup bagi kaum muda mudi namun nilai yang terkandung didalamnya adalah kebersamaan dalam bahasa,adat dan tradisi.Dolo dolo pada zaman dulu begitu dibutuhkan karena disanalah terdapat pengembangan diri dalam berkreasi benyanyi menjadi sebuah tradisi yang sangat dijujung tinggi di Waibalun.Dalam dolo dolo "Waibalun" entah sejak kapan tradisi ini sudah ada namun dari pernyataan para tetua adat Waibalun bahwa pada zaman dulu setiap malam bulan purnama semua kemamu kebarek mengenakan "senai beten" kain sarong .Lalu saya menyimpulkan bahwa dolo dolo mungkin dimulai pada zaman orang Waibalun mengenal kain " senai beten" atau bahkan sebelumnya.Pada kenyataanya bahwa senai beten di Waibalun hilang dari peredarannya bahkan nyaris saya belum pernah melihatnya hingga usia saya mencapai 34 tahun pada saat ini.
Dolo dolo mungkin bisa dikatakan sebagai pengikat rasa cinta & kasih sayang pada muda mudi yang diexpresikan dalam lagi,tarian,musik.Perkenalan antar muda mudi dijalin dan tumbuh hubungan yang disebut "taan soba"/pacaran.Bagi orang Waibalun pada zaman dulu hanya mengenal tata pacaran dengan hukum adat " mura wanan" sebuah aturan dimana ditentukan cara orang mengambil / dengan siapa seseorang bisa berpacaran/menikah.Misalkan saya suku pemuda Tukan Larantukan mempunyai pasangan dengan pemudi suku Bethan.Dan tradisi ini , pada zaman itu tidak boleh dilanggar ketentuan ini adalah mutlak.Atau orang Waibalun mengenal dengan sebutan "bala welin jaha"/betapa mahal nya gading/denda yang harus dibayar ketika seseorang salah dalam mengambil/kawin dengan pasangan hidupnya.Mungkin bisa dikatakan cinta terlaran bagi yang salah memilih.Sangsi yang begitu besar telah menanti pada setiap kesalahan yang dilakukan.yaitu "pate welin"/gading.Tradisi ini berjalan begitu bagus dan ketika saya masih kecilpun masih terjadi hal semacam ini.Sejak kecil saya sudah diberitahukan orang tua bahwa "mura wanan " saya adalah suku ini/itu.
Koda Geto / Kesepakatan akhir
ketika kedua pasangan merasa sudah cocok dan keluarga pun merestuinya maka akan diadakan sebuah upacara permulaan dari rangkaian upacara perkawinan.Koda geto adalah pihak pria datang bertandang kerumah pihak wanita untuk membicaran kelanjuntan dari masa pacaran yang telah dijalani.Opu,Belake, adalah orang yang mengambil bagian penting untuk acara ini.Opu dan belake mempunyai peranan penting dalam acara ini yakni membicarakan persetujuan atas dua pasang ( pria/Wanita) / mengukuhkan masa pacaran menjadi sebuah masa dimana bahwa adat sudah mengambil peranan dalam sebuah relationship ini.Adat mengambil bagian dalam penghitungan belis /mahar yang biasanya untuk besar kecilnya dilihat dari status sosial dari pasangan wanita,urutan anak keberapa,atau pun ana keriden"putri tunggal".Opu belake yang mewakili suku dan keluarga melangsungakan tawar menawar belis dan pada saat mencapai hasil yang disetujui maka disebut dengan " koda geto"Pada saat ini ada tradisi yang mesti dijalani yakni opu belake rekan hua malu" Opu dan belake disuguhi hidangan sirih pinang dan ayam bakar "manuk " dan "arak koten" Semua pembicaraan dalam prosen ini juga menentukan tanggal/hari "pana hua malu"/antar sirih pinang.
Sepin Sira
Sebuah hari dimana hanya para ibu ibu diundang untuk datang membersihkan beras karena setiap pesta perkawinan menyakut konsumsi yang sangat besar dan hampir melibatkan seluruh warga desa Waibalun.
Panah hua malu / Antar sirih pinang
Walaupun orang Waibalun hanya menyebut antar sirih pinang namun yang sesunggunya adalah hari dimana pihak pria menyerahkan belis / mahar kepada pihak wanita.Pada hari ini menjadi hari milik pasangan pria dimana pesta hanya dilaksanakan di keluarga pria.Satu minggu sebelun acar dimulai dari pihak pria mengeluarkan undangan/rekadu secara lisan misalnya"kame mete koda dari bapa Pei ne Ema Emma,pai marin tiu/tia/bosu/nona/ ...ema ema hari rabu legulon pai hono ape,rete ne hepe,keleka kebala rae bapak Deminggu lango,bapa bapa dore roho robok rete ne kenube" dalam tata cara penyampain ini tentunya tidak seperti undangan biasa karena yang mengundang adalah pihak keluarga bukan tuan pesta.Pada pagi harinya para orang tua yang diundang dataang dengan tugasnya masing masing.Para ibu mulai memasak nasi,lauk pauk
dan para bapak memulai membunuh babi,kambing,ayam.
Acara inti yang ditunggu pun tiba "pana hua malu"disini melibatkan begitu banyak orang karena dalam proses ini dimana pihak pria mengantar/menyerahkan belis.Adapun hal hal yang dibawah "gading/bala atau pun kila bala/perhiasan,pakaian pengantin wanita,ayam jantan yang hidup,ayam renki /ayam jantan bakar berdiri tegak dipasang rokok dimulutnya, beras,kambing,babi,pisang,kue tart/bolu,kain tenun,loma/daging babi dicampur singkong dibakar didalam bambu,arak,tuak.Barisan pun diatur dimulai yang terdepan para penari "mura ae",pembawa gading,para pemain musik "gendang,gitar,biola"Sebuah lagu dan tarian yang hanya kita jumpai pada saat ini adalah
Lagu "Lui E"
"Lui e e e Lui e
bene dita sapia lengga tanga
lui e e lui e bene dita sapia lengga tanga
oa oa e e mari oa mari beta enjo"
sebuah lagu yang bisa menghipnotis para kaum perempuan menari meliuk sambil berjalan dengan mengenakan selendang di lehernya.tangisan haru tentunya mengiringi upacara ini karena dari pihak keluarga pria merasa begitu kehilangan dengan anak prianya.Sebuah tradisi yang unik dimana dua keluarga berkumpul menerima sirih pinang dan bersatulah keluarga ini.Nyanyian berirama dolo dolo menghiasi perjalanan hingga di rumah mempelai wanita.Setelah menerima gading keluarga wanita mengucap syukur dengan memberikan sebuah kain kepada yang membawa gading yang disebut"lipa tanda mata"Pesta pun berlanjut kembali kekeluarga pria setelah acara pana hua malu selesai.
Malam itu juga menjadi hari yang sangat sibuk untuk keluarga wanita karena harus mempersiapkan rangkaian acara pernikahan keesokan harinya. Berupa upacara pemberkatan digereja,pesta dirumah yang melibatkan begitu banyak orang ( kalaupun acara pernikahan di Waibalun maka masih juga melibatkan 3 desa disampingnya yaitu lewolere,Pantai besar,lamawalang.Upacara Pemberkatan digereja biasanya pada pagi hari setelah itu dilangsungakan pesta/ resepsi siang sampe sore yang mana proses ini lebih cendrung secara tradisional yakni undangan hanya dihibur dengan gendang ,gitar,biola dan tarian tradisional yakni mura ae sedangkan pada malam hari resepsi lebih kepada undangan yang melibatkan band / sound sistem.Pesta tentunya mencapai puncak pada malam hari itu hingga dini hari.
Perkawinan di Waibalun tidak hanya berurusan dengan gereja namun lebih banyak terkonsentrasi pada adat istiadat.Pada zaman dulu sebuah pernikahan akan bisa terlaksanak di gereja apabila semua urutan upacara adat telah dilaksanakan.Adat Waibalun memberikan sebuah pelajaran yang berharga bahwa perkawinan tidak bisa hanya dilaksanakan oleh dua insan manusia tetapi ,suku,adat dan gereja .......
"di negri orang ku rasa senang tapi lebih senang di tanah airku ...WAIBALUN..." I take this poem from my Grand Mama "Katarina Penny Bethan"..thanks so much grand ma....I love you so much..you kept us like your son...Thanks so much to you for your teaching that how to prieses to Lord...I still remember every night 7 pm we have too stand by at home for family prying and every sunday with no activity in home...Grand pa " Stanislaus Todoboli Tukan"thanks so much you gave me signed on my dreaming when you died....thanks & thanks...from my Hati & Cinta".....I know YOU are in HEAVEN ....I MISSSSSSSS
Rabu, 30 April 2008
Koda Kenirin
Prae dein Ile Mandiri
Pe lodo hau
ate saren lewo saren
lango belen ata kame jadi
Pe lau lewa lewo papan
pe lewa wewan hutun
atek sare niku rae
Lewo goen belen
naan naran Waibalun
noon sina ama
jaga golek
lali heti
lau rae
pe laran Nama
pe Kudi Lelen Bala
atek goen doan
sudi hala gelupa hala
laran piin meten doan
sare pali goe balik rae
kaan lenggor leik limak
lali tuan Kudi laran nimun
ojok golo
hura bura
napin laja bajan sare
go niku genan laran
turonk hogo majan naran
pali wali goe hukut naran mio
lewo goen Waibalun
Pe lodo hau
ate saren lewo saren
lango belen ata kame jadi
Pe lau lewa lewo papan
pe lewa wewan hutun
atek sare niku rae
Lewo goen belen
naan naran Waibalun
noon sina ama
jaga golek
lali heti
lau rae
pe laran Nama
pe Kudi Lelen Bala
atek goen doan
sudi hala gelupa hala
laran piin meten doan
sare pali goe balik rae
kaan lenggor leik limak
lali tuan Kudi laran nimun
ojok golo
hura bura
napin laja bajan sare
go niku genan laran
turonk hogo majan naran
pali wali goe hukut naran mio
lewo goen Waibalun
Kenangan Pater Franco Soka SVD
Pada masa kecilku di tahun 1970 an di Waibalun di pimpin oleh Pater Franco Soka SVD.Salah satu pastor yang paling disayangi oleh umatnya.Seorang figur yang ramah,kasih sayang terhadap semua umatnya,khususnya anak anak yang masih duduk dibangku sekolah.Terkenang ketika saya masih di Taman Kanak kanak Neli atau yang lebih dikenal TK NELI setiap pagi begitu rajin saya ke sekolah karena pastor yang ringan tangan ini sangat akrab dengan anak anak.Terkadang dibagikannya permen ataupun susu dan juga mangganya.Khotbah nya yang sangat menyentuh dihati membuat anak anak begitu rajin ke gereja pada hari sabtu sore.
Di TK Neli yang penuh kenangan dengan para suster.Jadi ingat saya sama Mama Suster Ursula.Beliau begitu menyayangi kita semua dan sebagai seorang sosok biarawati yang sangat baik untuk kami semua pada saat itu.Sudah begitu lama saya kehilangan sosok mama suster Ursula.Nene mama Peni Bethan begitu menyayangi beliau sehingga komunikasi antar keluargaku dengan susteran begitu bagus.
Mungki saya masih berumur 4 tahun ketika pater Franco Soka datang diWaibalun.Tarian,lagu yang megah dan meriah menghantar pastor berkebangsaan Italy ini untuk pertama kali datang di Waibalun.Arak arakan di depan Gereja St Ignatius terasa begitu mulia,hingga masih terkenang dihati saya.Beliau menyangi umatnya dengan tulus,tidak memandang siapapun.
Pada masa masa itu juga begitu banyak turist yang datang ke Waibalun dan menjadi pemandangan yang begitu indah.Hampir setiap bulan ada turist yang datang.Dan karena hal itu hampir semua anak anak pada masa itu begitu bahagia melihat turist.Anak anak mengikuti turist dari belakan laksana gembala dan dombanya.Sungguh luar biasa pada tahun itu sudah ada turist yang datang di Waibalun .Pantai Lewolere menjadi nominator dan tentunya keindahan pulau Waibalun menjadi tempat wisata diving yang sempurna.Begitu bahagianya para pelancong yang datang ke pulau Waibalun karena pada masa itu tidak ada sama sekali yang namanya kapal laut yang menyeberangi perairan ini dan tentunya membuat flora & fauna bawa laut yang begitu fantastis....
Pada tahun delapan puluhan pater Franco Soka pun meninggalkan Waibalun.Tangisan perpisahan pun menghiasi perpisahan itu.Beliau Pater Franco Soka SVD menjadi seorang tokoh yang tak terlupakan di gereja St Ignatius Layola Waibalun . Beberapa kali beliau masih sempat bersuarat buat umatnya di Waibalun dan sekarang beliau berada di Roma Italy.
Thanks so much Pater Franco Soka SVD
Di TK Neli yang penuh kenangan dengan para suster.Jadi ingat saya sama Mama Suster Ursula.Beliau begitu menyayangi kita semua dan sebagai seorang sosok biarawati yang sangat baik untuk kami semua pada saat itu.Sudah begitu lama saya kehilangan sosok mama suster Ursula.Nene mama Peni Bethan begitu menyayangi beliau sehingga komunikasi antar keluargaku dengan susteran begitu bagus.
Mungki saya masih berumur 4 tahun ketika pater Franco Soka datang diWaibalun.Tarian,lagu yang megah dan meriah menghantar pastor berkebangsaan Italy ini untuk pertama kali datang di Waibalun.Arak arakan di depan Gereja St Ignatius terasa begitu mulia,hingga masih terkenang dihati saya.Beliau menyangi umatnya dengan tulus,tidak memandang siapapun.
Pada masa masa itu juga begitu banyak turist yang datang ke Waibalun dan menjadi pemandangan yang begitu indah.Hampir setiap bulan ada turist yang datang.Dan karena hal itu hampir semua anak anak pada masa itu begitu bahagia melihat turist.Anak anak mengikuti turist dari belakan laksana gembala dan dombanya.Sungguh luar biasa pada tahun itu sudah ada turist yang datang di Waibalun .Pantai Lewolere menjadi nominator dan tentunya keindahan pulau Waibalun menjadi tempat wisata diving yang sempurna.Begitu bahagianya para pelancong yang datang ke pulau Waibalun karena pada masa itu tidak ada sama sekali yang namanya kapal laut yang menyeberangi perairan ini dan tentunya membuat flora & fauna bawa laut yang begitu fantastis....
Pada tahun delapan puluhan pater Franco Soka pun meninggalkan Waibalun.Tangisan perpisahan pun menghiasi perpisahan itu.Beliau Pater Franco Soka SVD menjadi seorang tokoh yang tak terlupakan di gereja St Ignatius Layola Waibalun . Beberapa kali beliau masih sempat bersuarat buat umatnya di Waibalun dan sekarang beliau berada di Roma Italy.
Thanks so much Pater Franco Soka SVD
Kamis, 24 April 2008
Memancing
Orang Waibalun mempunyai banyak pengalaman dengan laut.Karena daerahnya tepat dipinggir pantai maka secara otomatis semua warga waibalun mempunyai keahlian dalam mancing.
1.Gima
Adalah sebuah tradisi yang paling kuno yang bisa dikategorikan dalam zaman batu.Dimana para leluhur didesa ini membuat perangkap dari timbunan batu.Batu ditimbun sekitar satu meter dan dibuat seperti lingkaran huruf U yang pada air pasang begitu banyak ikan yang berkeliaran didalamnya dan pada saat air laut surut maka ikan ikan itu akan terperangkap didalamnya.
Ada juga cara lain dalam istilah ini adalah mencari siput kerang yang nempel pada batu.
2.Blutu
Sebuah carah yang sangat akurat untuk menagkap ikan dalam kodisi yang hidup.Dimana dibuatkan sebuah perangkap penankap ikan yang terbuat dari bambu.Bambu dianyam dalam bentuk sebuah bujursangkar disertai dengan sebuah lubang.Didalam perangkap ini dubuatkan jalan ikan yang tentunya begitu sulit bagi ikan untuk keluar dari perangkap ini.Karena blutu ini dalam ukuran yang besar maka membutukan tali untuk menurunkan dan menaikannya dari dalam laut.Pada setiap pojok perangkap ini diikatkan batu sebagai pemberat agar perangkapnya tidak terbawa oleh arus bawa laut.
Ada juga bagi anak anak dibuatkan sebuah perangkap namun yang lebih kecil yang di sebut "wewa"namun bedahnya terletak pada ukuran dan pemakaiannya.Wewa dipasang didasar laut dengan menyelam dan didalamnya di pasang umpan.Dan tentunya yang terperangkap didalamnya hanyalah ikan kecil.
3.Hetont
Hetont adalah sebuah cara tradisional menangkap ikan di malam hari.Dan hal ini tidak dilakukan setiap malam hari melainkan ketika air laut surut panjang / pada saat bulan purnama.Segala jenis ikan,gurita,cumi.Dengan menggunakan tombak tradisional/Keturak dan lampu petromax orang waibalun menelusuri malam dengan berjalan didalam laut.Tentunya membutuhkan keahliahan dalam menombak.
4.Wedan / Huan
Memancing tardisional dengan cara yang unik.Hal ini hanya dilakukan pada sore hari pada waktu tertentu dan mendapakna ikan yang tertentu pula.Umpan terbuat dari bulu ayam yang dipilihkan secarah khusus.
5>bagan
Penagkapan ikan dengan perahu traditional / jukun dengan menggunakan pukat dimana pada zaman dulu menjadi suatu yang sangat diminati.
6.Tubak Io Kiko
Adalah suatu lambang kepuasan pada saat itu ketika tetua menangkap ikan Hiu.Mungkin dalam bahasa indonesia orang waibalun sulit menjelaskan nama ikan hiu nya namun yang pasti adalah begitu banyak ikan hiu ataupun paus yang tergeletak di pantai Waibalun.Pada masa kecil ku ,disamping rumah ada seorang pak tua yang terkenal dengan jago penakluk ikan hiu.adalah bapak Uka...hanya menyendiri seorang diri dia melaut menangkap raksasa laut ini.Tentu yang dicari hanyalah hati ikan hiu untuk diminum dengan arak moke nya.Sedangkan dagingnya dibagikan ke seluruh warga di Waibalun.dia terkenal dengan raja mabuk.Karena sehabis menagkap hiu,makan hatinya sambil minum arak tentunya meghabiskan malam yang panjang dan dua hari dua malam bapak uka berbicara,bernyanyi sendiri dirumahnya.
1.Gima
Adalah sebuah tradisi yang paling kuno yang bisa dikategorikan dalam zaman batu.Dimana para leluhur didesa ini membuat perangkap dari timbunan batu.Batu ditimbun sekitar satu meter dan dibuat seperti lingkaran huruf U yang pada air pasang begitu banyak ikan yang berkeliaran didalamnya dan pada saat air laut surut maka ikan ikan itu akan terperangkap didalamnya.
Ada juga cara lain dalam istilah ini adalah mencari siput kerang yang nempel pada batu.
2.Blutu
Sebuah carah yang sangat akurat untuk menagkap ikan dalam kodisi yang hidup.Dimana dibuatkan sebuah perangkap penankap ikan yang terbuat dari bambu.Bambu dianyam dalam bentuk sebuah bujursangkar disertai dengan sebuah lubang.Didalam perangkap ini dubuatkan jalan ikan yang tentunya begitu sulit bagi ikan untuk keluar dari perangkap ini.Karena blutu ini dalam ukuran yang besar maka membutukan tali untuk menurunkan dan menaikannya dari dalam laut.Pada setiap pojok perangkap ini diikatkan batu sebagai pemberat agar perangkapnya tidak terbawa oleh arus bawa laut.
Ada juga bagi anak anak dibuatkan sebuah perangkap namun yang lebih kecil yang di sebut "wewa"namun bedahnya terletak pada ukuran dan pemakaiannya.Wewa dipasang didasar laut dengan menyelam dan didalamnya di pasang umpan.Dan tentunya yang terperangkap didalamnya hanyalah ikan kecil.
3.Hetont
Hetont adalah sebuah cara tradisional menangkap ikan di malam hari.Dan hal ini tidak dilakukan setiap malam hari melainkan ketika air laut surut panjang / pada saat bulan purnama.Segala jenis ikan,gurita,cumi.Dengan menggunakan tombak tradisional/Keturak dan lampu petromax orang waibalun menelusuri malam dengan berjalan didalam laut.Tentunya membutuhkan keahliahan dalam menombak.
4.Wedan / Huan
Memancing tardisional dengan cara yang unik.Hal ini hanya dilakukan pada sore hari pada waktu tertentu dan mendapakna ikan yang tertentu pula.Umpan terbuat dari bulu ayam yang dipilihkan secarah khusus.
5>bagan
Penagkapan ikan dengan perahu traditional / jukun dengan menggunakan pukat dimana pada zaman dulu menjadi suatu yang sangat diminati.
6.Tubak Io Kiko
Adalah suatu lambang kepuasan pada saat itu ketika tetua menangkap ikan Hiu.Mungkin dalam bahasa indonesia orang waibalun sulit menjelaskan nama ikan hiu nya namun yang pasti adalah begitu banyak ikan hiu ataupun paus yang tergeletak di pantai Waibalun.Pada masa kecil ku ,disamping rumah ada seorang pak tua yang terkenal dengan jago penakluk ikan hiu.adalah bapak Uka...hanya menyendiri seorang diri dia melaut menangkap raksasa laut ini.Tentu yang dicari hanyalah hati ikan hiu untuk diminum dengan arak moke nya.Sedangkan dagingnya dibagikan ke seluruh warga di Waibalun.dia terkenal dengan raja mabuk.Karena sehabis menagkap hiu,makan hatinya sambil minum arak tentunya meghabiskan malam yang panjang dan dua hari dua malam bapak uka berbicara,bernyanyi sendiri dirumahnya.
Selasa, 22 April 2008
Ana Sambo Baru
Siapa yang tak kenel dengan ungkapan yang lazim terjadi di Waibalun"Ana sambo baru,nae data po baru,beli baju baru dudo garu garu..dudo garu garu" Sebuah tradisi yang sulit terjadi didaerah lain yakni Penerimaan Sakramen Pertama.Ketika duduk di bangku SD kelas 3 tentunya semua siswa giat belajar supaya bisa naik kelas 4.Semua persiapan dimulai ketika mendengan berita kenaikan kelas.Kalender pun langsung dicari bertepatan dengan Hari Raya Tri tunggal Maha Kudus maka terciptalah sebuah perayaan yang super meriah.Budget yang keluarpun tidak tanggung tanggung.Undangan menyebar keseleruh plosok desa.Bahkan satu kepala keluarga mendapatkan 50 kartu undangan.Hari yang melelahkan tentunya bagi semua warga yang mempunyai banyak sanak family yang mempunyai anak kelas 4 yang ikut komuni pertama.Misalkan SDK Waibalun I mempunyai siswa kelas 4 /dari desa Waibalun berjumlah 20 orang + SDK Waibalun dua 20 orang + SD Impres 20 orang maka bisa dipastikan 60 orang yang akan melangsungkan pesta dalam satu hari itu.Semuanya menjadi lautan pesta pora.Alunan musik meraja lelah tentunya dengan volume yang begitu dasyat.Patut dicatat bahwa pendapat orang Waibalun bahwa sebuah pesta idendik dengan musik tarian dan minuman.Dan yang menjadi sebuah urusan yang sangat penting yaitu konsumsi.Fegili ( begitulah kata orang waibalun untuk satu hari sebelum perayaan tersebut diatas tepatnya pada pukul 03 dini hari semua orang waibalun sudah bergulat dengan pembantaian babi.Hampir dipastikan minimal untuk sebuah pesta komuni pertama dikeluarkan 3 sampe 5 ekor babi dengan berat kurang lebih 100 Kg.Pada dini hari itu terdengar tangisan babi hampir terdengar dari ujung timur sampe ujung barat Waibalun.
Pagi hari pukul 8:00 anak anak sambo baru berbaris didepan pintu Gereja St.Ignatius Layola dengan berbaju serba putih.Sebatang lilin ditangan kanan dan diapiti kedua orang tuanya masing masing.Terdengar sesama orang tua berbisik tentang persiapan pestanya.Para guru pembina dan pastor bersiap siap menghatar anak anak ini kedalam bagunan gereja yang diperkirakan dibagun sejak zaman Porto.Syangnya orang Waibalun tidak terlalu senang dengan arsitektur kuno.Jadi gereja ini terkesan laksana gereja modern.Gereja tua itu sudah hilang dan diatas tanah itu bangun gereja baru.Mungkin bagi orang Waibalun yang tinggal dikampung merajakan sebagai suatu kemajuan yang luar biasa.Namun bagi saya yang menetap ditanah perantaun tak mungkin mendapatkan lagi suasana gereja leluhur ku.Nyanyian paduan suara anak anak menghetakan hati ku teringat pada masa masa kecilku ketika menerima komuni pertama.Pa dan mama mu mendampingi ku bersama berjalan mengintari altar gereja.Tuhan disini Kau berikan hati yang damai,cinta yang luar biasa atas tanah tumpah darah Waibalun.mungkin hanya itu ungkapan hatiku ketika melihat kerinduan anak anak untuk dapat menerima sakramen komuni pertama.
Kala koor pembuakan di awalai dengan lagu"Datanglah Kepada Ku " airmata ku menetes mungkin haru tercengang aku menatap patung tua Santo Yosep & Santa Maria yang masih utuh tegak berdiri di putaran altar.Sambil menatap istri ku yang baru pertama kali datang ke desa ku ..lalu aku berkata maafkan aku..hanya ini yang bisa ku berikan kepadamu.Sebuah desa dengan tradisi gereja yang begitu melekat dalam pejalanan hidup orang Waibalun.Saya sangat berharap kalo kalo suatu hari nanti kami akan kembali ke Waibalun dan bisa benyanyi bersama di gereja ataupun masmur tanggapan.
Sekembalinya dari gereja semua orang menyalami anak sambut baru.Pesta pun dimulai.Sepanjang siang dan malam itu hingar bingar musik,muda mudi yang berjoget dansa ,mabuk mabukan .Mungkin hari ini adalah hari yang terakhir hingga pesta lupa segala galanya.Begitu kata ku kepada istriku.Waibalun identik dengan pesta.Entah sejak kapan dimulai dengan tradisi ini namun rasanya sulit sekali untuk dirubah.
Namun satu yang takan pernah saya lupa adalah "pai taan hama hama tite kaka arin epu dega soron sera tite tobo taan tou"
Pagi hari pukul 8:00 anak anak sambo baru berbaris didepan pintu Gereja St.Ignatius Layola dengan berbaju serba putih.Sebatang lilin ditangan kanan dan diapiti kedua orang tuanya masing masing.Terdengar sesama orang tua berbisik tentang persiapan pestanya.Para guru pembina dan pastor bersiap siap menghatar anak anak ini kedalam bagunan gereja yang diperkirakan dibagun sejak zaman Porto.Syangnya orang Waibalun tidak terlalu senang dengan arsitektur kuno.Jadi gereja ini terkesan laksana gereja modern.Gereja tua itu sudah hilang dan diatas tanah itu bangun gereja baru.Mungkin bagi orang Waibalun yang tinggal dikampung merajakan sebagai suatu kemajuan yang luar biasa.Namun bagi saya yang menetap ditanah perantaun tak mungkin mendapatkan lagi suasana gereja leluhur ku.Nyanyian paduan suara anak anak menghetakan hati ku teringat pada masa masa kecilku ketika menerima komuni pertama.Pa dan mama mu mendampingi ku bersama berjalan mengintari altar gereja.Tuhan disini Kau berikan hati yang damai,cinta yang luar biasa atas tanah tumpah darah Waibalun.mungkin hanya itu ungkapan hatiku ketika melihat kerinduan anak anak untuk dapat menerima sakramen komuni pertama.
Kala koor pembuakan di awalai dengan lagu"Datanglah Kepada Ku " airmata ku menetes mungkin haru tercengang aku menatap patung tua Santo Yosep & Santa Maria yang masih utuh tegak berdiri di putaran altar.Sambil menatap istri ku yang baru pertama kali datang ke desa ku ..lalu aku berkata maafkan aku..hanya ini yang bisa ku berikan kepadamu.Sebuah desa dengan tradisi gereja yang begitu melekat dalam pejalanan hidup orang Waibalun.Saya sangat berharap kalo kalo suatu hari nanti kami akan kembali ke Waibalun dan bisa benyanyi bersama di gereja ataupun masmur tanggapan.
Sekembalinya dari gereja semua orang menyalami anak sambut baru.Pesta pun dimulai.Sepanjang siang dan malam itu hingar bingar musik,muda mudi yang berjoget dansa ,mabuk mabukan .Mungkin hari ini adalah hari yang terakhir hingga pesta lupa segala galanya.Begitu kata ku kepada istriku.Waibalun identik dengan pesta.Entah sejak kapan dimulai dengan tradisi ini namun rasanya sulit sekali untuk dirubah.
Namun satu yang takan pernah saya lupa adalah "pai taan hama hama tite kaka arin epu dega soron sera tite tobo taan tou"
Langganan:
Postingan (Atom)
Goe ne wekik goen
Nolon kene mor pa goen marin 'ekan manja wekim moen bain,moe ata kaya rayan hala' Koda piin goe kete sain pali wali . Ata iker tur...
-
Pali wali goe onok berea loke halaku maka nolon sain pali wali kia goe bene koi ketun nane ata marin sembayan Hendak Berlindung .Ade Oa Lau...
-
Silsilah Raja-Raja Larantuka 1. Putri Ile Jadi,Putri Watowele (Yang Kawin dengan Raja Pati Golo Arkyan) 2. Raja Padu Ile 3. R...
-
Saya benci Orang Waibalun.....begitu lah kesan saya pada taon 2004 saya pulang kampung ...suasana perjalanan yg begitu melelahkan namun ter...